Day 1 #30harimenulis



Cara memasuki ruangan.  Cara bertatap mata.  Cara berjabat tangan.

Dari tiga hal sederhana ini, kita akan dikelompokkan oleh seseorang yang baru saja kita kenal ke dalam salah satu kategori buatannya sendiri.  Macam-macam kategorinya tergantung pada dorongan hewani yang telah terbentuk oleh proses evolusi yang termutasi oleh pengalaman pribadinya sejak lahir.

Itu juga yang saya lakukan ketika bertemu seseorang yang baru.

Terkadang pengalaman seterusnya dengan orang yang baru dikenal itu akan membuat saya menampik kesan pertama yang telah hinggap.  Namun, sering kali pengalaman seterusnya malah memperkuat kesan perdana.

Kesan pertama yang saya dapatkan saat berjabat tangan dengan Pak J, anggota DPRD dari salah satu daerah Indonesia Timur: seperti menggenggam tangan hantu.  Tangannya ringan, tanpa substansi, dan sedikit terlalu halus untuk seorang lelaki.  Perlu flexibilitas mental extra untuk menjaga agar karakternya jangan dulu tergelincir masuk ke dalam salah satu sumur gelap kategorisasi.

“Tahan dulu penilaianmu,” ujar saya dalam hati.  “Akan sulit bekerja sama dengan seseorang yang tidak kita hargai, dan siapa tahu suatu hari nanti kita akan perlu kerja sama dengannya.”

Saat itu saya sedang menantikan calon yayasan rekanan di kafetaria Nusantara 1.  Kita akan bersama-sama melobi salah satu perwakilan daerah Indonesia timur—bukan Pak J—untuk menghentikan explorasi tambang emas yang sudah mulai dilakukan oleh suatu perusahaan Australia di sebuah taman nasional.  Saya ditemani oleh Pak V.  Jahitan luka berbentuk bulan sabit di kepalanya—hadiah dari keroyokan massa di daerah Ketapang seminggu yang lalu—seperti sebuah tanda pengabsahan bahwa dia layak hadir di gedung beratap punggung kura-kura ini. Dia nampak nyaman dilingkungan ini.

Entah apa antonim dari kata ”nyaman” tapi itulah yang saya rasakan pada saat itu.

Mungkin cara orang-orang di sekitar bercakap-cakap: hangat, bersahabat, bibir dihiasi senyum, namun mata penuh kalkulasi.  Mungkin athmosfeel kafetaria itu sendiri, yang menyesakkan seperti dipenuhi asap rokok, walau tak ada satupun orang di meja sekitar yang memegang rokok.  Entah apa sebab utamanya, namun saya tidak bisa berhenti menggeserkan pantat di atas kursi, manifestasi dari ketidaknyamanan.

Saat Pak J datang menyapa Pak V dan mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk di meja kami, saya berhasil menahan diri dari memberikan penilaian pertama padanya.  ”Di tempat tak nyaman seperti ini, bertemu siapapun, penilaian pertama pasti akan bias ke arah negatif,” begitulah rasionalisasi saya.

Sesungguhnya saya ingin merasa nyaman di tempat itu.  Saya ingin merasa nyaman di dekat Pak J.  Pak J dan orang-orang lain yang ada di kafetaria itu adalah orang-orang yang telah dipilih oleh saudara-saudara sebangsa.  Merekalah perwakilan kami, dan perwakilan saudara-saudara saya otomatis menjadi perwakilan saya juga.  Merekalah pejuang aspirasi kami.  Merekalah personifikasi harapan dan impian dari berbagai daerah di Indonesia.  Bila saya tak merasa nyaman di tempat itu, mungkin sayalah yang terlalu asing.  Mungkin saya telah merantau ke negeri orang terlalu lama hingga saya bukan lagi bagian dari ”kami” dan ”kita”-nya Indonesia.

Saya sengaja menenggelamkan diri dalam pemikiran-pemikiran yang setengah absurd ini agar tak usah memperhatikan Pak J.  Ini satu-satunya cara agar saya dapat menahan diri dari mengelompokkannya ke dalam kategori yang buruk.  Toh, penilaian tak akan bisa objektif karena pengaruh lingkungan sekitar pada saat itu.

Sepertinya kami bertiga sedang terlibat dalam suatu pembicaraan, entah apa.  Saya hanya tersenyum dan mengangguk, dan itu sudah cukup memuaskan Pak J untuk terus berbicara.

Dan dia terus bicara.

Dan bicara.

Dia mengambil sebatang tusuk gigi dari tengah meja.  Sembari menekankan ujung kayu kecil yang tajam itu di antara giginya, dia terus berbicara.

Dan bicara.

Dan mengorek-korek.

Dan bicara.

Dia berhenti sebentar untuk memperhatikan potongan makanan apa saja yang sudah tertancap di ujung tusuk gigi.  Dengan jempolnya ia dorong serpihan-serpihan makanan yang melekat.  Setelah semua kotoran terlepas pun jempolnya masih mendorong-dorong ujung kayu yang telah menghitam itu, seolah tengah mengasah sebuah perkakas kesayangan.  Matanya terfokus ke ujung jempolnya yang sedang sibuk bekerja, dan walau saya berusaha membuang muka, mata tetap tak bisa lepas dari apa yang sedang dilakukannya.

Akhirnya dia puas.  Dia mengangkat wajahnya untuk meneruskan pembicaraan.  Kata-kata mulai kembali meluncur dengan bebasnya, tanpa terhalang tusuk gigi.  Saya mulai memberanikan diri menatap wajahnya saat berbicara.  Saat itulah dia memasukkan tusuk gigi yang sudah dibelai-belai jempolnya ke dalam telinga kanannya.

Dan dia terus berbicara.

Dan mengorek-korek.

Dan bicara.

Dia melihat mata saya yang terbelalak ngeri dan mengartikannya sebagai sinyal bahwa saya tertarik dengan apa yang sedang dibicarakannya.  Dengan penuh semangat, dia meningkatkan intensitas pembicaraannya.  Dan korekannya.

Bila ada yang mencubit saya pada saat itu sekalipun, kurasa saya tak akan sadar.  Seluruh realita pribadi pada saat itu terfokus pada tangannya yang besar yang dengan giatnya memutar-mutar ujung tusuk gigi di dalam lubang telinganya.

Ada pikiran kecil yang bermain-main di otak saya: Pantesan pemerintah gak dengerin rakyat.  Tingkahnya kayak gini gimana bisa gak budeg!

Pak V menyenggol saya dengan sedikit kencang, dan saya pun menutup mulut yang tengah ternganga.

”Ayo, Pak Ghani.  Sepertinya teman-teman dari yayasan rekanan sudah sampai,” katanya.

Kami pun berdiri.  Sambil berpikir tentang validitas dan signifikansi kesan pertama, saya raih tangan perwakilan saya itu, dan saya ucapkan selamat tinggal.