Day 2 #30harimenulis

*

Salah satu langkah dasar dalam perlindungan melawan tukang sihir Eropa adalah untuk memastikan dia tidak pernah mengetahui nama sejati kita. Seperti apapun saktinya si tukang sihir, seperti apapun menyeramkannya kekejaman si ahli ilmu hitam itu, dia tidak bisa mengalahkan kita kalau dia tidak tahu nama sejati kita. Setidaknya, itulah salah satu pelajaran berharga yang saya saring sedari kecil dari dongeng-dongeng kesukaan. Nama sejati kita mungkin berbeda dari nama yang digunakan orang lain untuk memanggil kita, namun ia adalah nama yang kita gunakan untuk memanggil diri kita sendiri di dalam hati. Nama sejatilah definisi autentik siapa kita sebenarnya. Saat kita mengenal diri kita yang sejati, kita memiliki kontrol sepenuhnya akan diri kita. Demikian pula saat kita mengenal kesejatian diri orang lain. Kita memiliki kontrol penuh akan dirinya.

Sedemikian kuatnya kah makna nama?

Setiap orang tua pasti tak asing dengan banyaknya pertimbangan yang harus diperhatikan ketika akan memilih nama anaknya. Demikian juga mereka yang telah mendirikan perusahaan sendiri. Harus memuaskan stakeholders (ortu / mertua / pemegang saham), harus praktis (tidak mudah diplesetkan menjadi kata-kata tak senonoh di sekolah / tidak menyulitkan pada saat ingin mendapatkan visa / mudah diingat oleh pelanggan), dan harus menggambarkan nilai-nilai dan impian para orang tua / pendirinya.

Adakalanya saat seorang anak tumbuh dewasa, dia mengadopsi nama baru. Demikian juga dengan sebuah perusahaan. Dia pun mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk membaptis dirinya dengan nama yang baru. Proses rebranding memberikan wajah baru untuk dunia. Rebranding juga menjadi remah-remah yang ditaburkan sebagai petunjuk pengingat arah perjalanan untuk dirinya sendiri / karyawannya.

Sedemikian kuatnya kah makna nama?

Bagaimana bila kita merubah ”pemerintah” dengan kata yang lebih dekat dengan padanan bahasa Inggrisnya: ”government.” Mungkinkah pemerintah kita akan mengurangi kecenderungannya untuk memerintah, dan meningkatkan kegiatannya untuk memelihara?

Bagaimana dengan ”pegawai negeri?” Kalau kita cari kata yang lebih mirip ”civil servant,” apakah pegawai negeri akan jadi lebih beradab dan lebih meningkatkan usahanya dalam melayani masyarakat secara memuaskan?

Kalau ”Komisi DPR” diganti dengan kata yang lain, apakah mereka akan lebih memperjuangkan aspirasi orang-orang yang diwakilinya, dan bukan sibuk memperjuangkan kepentingannya untuk mendapatkan komisi dari proyek-proyek?

Ini bukan kritik terselubung lho. Cuma berandai-andai saja.

Tekadang saya bercanda—dengan tidak sepatutnya—ketika melihat kericuhan mahasiswa Makassar: ”Mak-nya aja Kasar, apalagi anak-anaknya.”

Walau saya bercanda ketika mengatakannya, sebenarnya saya bertanya-tanya: apakah mereka terdorong untuk ”berjuang” karena mereka bersekolah di perguruan tinggi yang memakai nama seorang pejuang?

Entahlah.

Mungkin sebagai bangsa kita perlu bersama-sama mulai memikirkan kembali nama-nama yang kita gunakan untuk memanggil diri kita sendiri. Entah dongeng apa yang sedang kita ceritakan pada diri sendiri. Yang jelas, dongeng ini bertambah seram ketika bangsa ini tersadar bahwa kita telah lupa nama sejati Indonesia.