Day 3 #30harimenulis

*

Saya tiba-tiba terjaga dari tidur ketika kendaraan umum yang saya tumpangi berhenti mendadak. Sepertinya kami menabrak atau ditabrak sesuatu. Seperti penumpang lainnya di kendaraan yang cuma seperempat penuh itu, saya pun mencari tanda-tanda sebab kenapa kami terhenti. Sang supir sudah turun dari kursi pengendara, dan ada seorang polisi berseragam lengkap berdiri di sampingnya.

”Wow, cepat sekali polisi ini tiba di lokasi,” saya terkagum-kagum. Di luar tampak kemacetan menghambat laju aliran kendaraan yang sedang mengalir dari Bandung ke Jakarta di Senin pagi itu.

Pak Polisi dan Pak Supir berdua berjalan menuju ke mobil kecil yang nampaknya telah menabrak kendaraan umum kami.

Plat nomor mobil itu berwarna hitam, dengan satu bintang dan angka-angka berwarna perunggu. Ternyata Pak Polisi tadilah yang telah menabrak kendaraan kami.

Dua menit kemudian Pak Supir kembali duduk di kursinya. Dia terlihat bingung dan gusar pada saat bersamaan.

“Dia yang menabrak, kok SIM saya yang ditahan?“ katanya.

Sekilas dia menengok ke belakang, dan kemudian segera membawa kendaraan kami dengan sangat agresif, keluar masuk dan memaksakan menyalip kendaraan-kendaraan yang dengan lambat bergerak di jalan tol itu.

”SIM saya dibawa! Dibawa!“ katanya panik.

Ternyata ketika Pak Supir berdiri di luar tadi, Pak Polisi memerintahkannya untuk menyerahkan SIM-nya. Kemudian, Pak Supir diminta kembali ke dalam kendaraan. Saat itu, Pak Polisi langsung pergi meninggalkan lokasi.

”Kalau gak ada SIM, saya boleh kerja!” lanjut Pak Supir dengan panik. Dia masih menyetir dengan agresif, mencari-cari mobil polisi yang tadi.

Para penumpang pun mulai brainstorming cara membantu Pak Supir. Mulai dari melaporkan ke media, sampai menggunakan backing yang ada di Mabes, hingga mengumpulkan uang untuk membantu Pak Supir membuat SIM baru. Pilihan satu dan dua sedikit susah, karena Pak Supir tidak tahu nama Pak Polisi. Tinggal pilihan ketiga.

Sembari diskusi, saya menelepon kantor penyedia kendaraan umum ini untuk melaporkan kejadiannya. Setidaknya semoga bisa mengurangi masalah Pak Supir.

Sekitar lima kilometer kemudian kami temukan mobil Pak Polisi sedang meluncur dengan lambat. Mungkin dia memang sengaja menunggu kami.

Kendaraan Pak Polisi dan Pak Supir menepi. Seorang penumpang berkostum ustad (kopiah putih, sedikit berjenggot, berbicara dengan banyak bumbu bahasa Arab) mengatakan kepada Pak Supir, ”Sudah, sama-sama saya turunnya. Nanti kita minta maaf.”

Mereka berdua turun mendekati mobil Pak Polisi. Beberapa menit kemudian mereka kembali lagi. Pak Supir terlihat puas dengan SIM kembali di tangan. Pak Tampak-Seperti-Ustad juga tampak puas. ”Alhamdulillah,” katanya.

Di negara ini, mungkin inilah kondisi terdekat dengan sebuah happy ending yang bisa kita bayangkan. Sayang sekali.

Saya sendiri masih bertanya-tanya, kira-kira bagaimana mereka meminta maaf kepada Pak Polisi?

”Pak, maaf sekali tadi kami ditabrak bapak.”

Dan bagaimana Pak Polisi kira-kira menjawab?

”Iya, makanya! Awas lho, jangan sampai lain kali ditabrak saya lagi!”

? ? ?

SIM dikembalikan oleh polisi