Day 6 #30harimenulis

Alkisah seorang anggota angkatan bersenjata sedang berkunjung ke rumah keluarga istrinya. Jasanya di lapangan telah terbukti, dan terbantu oleh hubungan keluarganya, karirnya telah melesat dan ia memiliki pangkat yang lumayan tinggi. Dorongan dalam dirinya untuk sukses kuat. Walau pada saat itu mungkin belum pernah dia pikirkan dengan serius, suatu hari nanti dia akan menjadi seorang kandidat kepresidenan. Sebenarnya pada saat itu hanya dua hal yang benar-benar bisa menghalanginya. Pertama, emosinya yang terkadang meletup-letup. Kedua, kecil kemungkinan mertuanya mau digantikan oleh siapapun sebagai presiden.

Keluarga istri sang tentara memiliki kebiasaan memelihara hewan eksotis. Salah satunya adalah seekor harimau dewasa. Ukurannya cukup besar hingga bisa menelan tiga orang anak kecil sekaligus. Harimau ini dibiarkan dengan bebas melenggak-lenggok keluar masuk rumah. Terkadang para tamu harus membiasakan diri beramah-tamah sambil menyantap hidangan yang megah dan lezat dengan santai, walaupun harimau peliharaan sedang menguap dan meregangkan tubuh di bawah meja makan.

Di kunjungannya hari itu, sang tentara kebetulan harus sendirian memojok untuk melakukan pembicaraan pribadi lewat telepon. Si harimau juga kebetulan berada di ruang yang sama. Entah apa yang memotivasinya, tiba-tiba si harimau menerkam, dan menggigit pantat sang panglima perang. Walau terperanjat, tentara itu berbalik dan memukul kepala harimau dengan gagang telepon. Saat harimau melepaskan gigitannya, tentara itu pun mengejar harimau itu sambil terus memukulinya dengan gagang telepon.

”Baru kali ini,” cerita seorang saksi, ”gue ngelihat harimau lari terbirit-birit.”