Day 5 #30harimenulis

Banjir di Jakarta yang semalam mematikan gerak lalu lintas ibukota telah surut. Pukul lima pagi ini ada beberapa tempat yang masih terendam (seperti beberapa ruas jalan kecil di daerah Buncit) dan tempat-tempat yang baru surut airnya (seperti di dekat Gandaria City). Langit sudah kembali biru dan mobil-mobil pribadi sudah mulai keluar dari sarangnya, seperti rayap yang siap menggerogoti pilar-pilar kesabaran warga Jakarta.

Saat saya sibuk mengarungi luapan air got semalam, sempat tergoda untuk membayangkan betapa asyiknya bila saya memiliki tongkat Nabi Musa. Kita semua memiliki radio internal yang bisa menangkap frekuensi keTuhanan, dan kita dapat merubah frekuensi itu menjadi keyakinan, kata-kata, dan tindakan. Nabi Musa dan tongkatnya berbeda. Dia dapat merubah frekuensi itu menjadi kekuatan luar biasa yang dapat membelah samudra.

Bila saya memiliki kemampuan itu, pasti tidak perlu basah-basah berendam dalam air sumber penyakit ini. Wah, kalau punya kekuatan seperti itu, macet pun tak perlu. Akan saya belah kemacetan Jakarta agar perjalanan lebih lancar.

Ada-ada saja.

Jaman nabi-nabi sudah lewat tapi tetap saja banyak yang menantikan keajaiban untuk terjadi. Orang-orang di Amerika, misalnya. Dalam perjalanan mereka keluar dari resesi, tetap saja mereka berharap agar The Feds mengeluarkan suatu mukjizat yang dapat tiba-tiba mengurangi periode derita mereka, seakan-akan suku bunga adalah tongkat Musa yang tinggal diketuk saja untuk membawa mereka ke tanah yang dijanjikan. Mereka terbiasa membelanjakan lebih banyak dari yang mereka hasilkan. Saat ini mereka hanya membelanjakan 94% dari penghasilan total, dan ini membuat mereka kocar-kacir. Betapa menderitanya hidup kita saat ini! jerit mereka.

Mereka menginginkan mukjizat untuk dikembalikan ke dalam kemaksiatan. Lucunya, kalau bisa, pasti Washington sudah memenuhi keinginan ini. Tapi Washington tidak bisa. Jaman nabi-nabi sudah lewat.

*

Kita pun sama saja. Kita duduk sendirian di dalam mobil pribadi—atau mungkin hanya ditemani supir—dan kita berkoar-koar kalau pemerintah Jakarta harus mengurangi kemacetan. Kalau saja kita menangkap betapa ironisnya situasi ini, mungkin kita bisa sedikit menikmati kemacetan dengan mentertawakan diri sendiri.

Padahal banyak yang bisa kita lakukan. Bersepeda di Jakarta memang bukan cara bergerak yang paling aman, tapi tetap menjadi opsi. Kendaraan umum juga bukan opsi yang paling nyaman, tapi bila para pengendara mobil berbondong-bondong memakai kendaraan umum secara konsisten untuk periode yang cukup lama, pemerintah akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Saat kata-kata tak lagi cukup untuk mendorong pemerintah untuk berubah, saatnya untuk aksi, dan semua aksi yang baik dimulai dari diri sendiri. Saat komat-kamit tak mempan, saatnya untuk komit.

Atau, kalau kita sedemikian alerginya terhadap kendaraan umum yang sepertinya dapat menurunkan derajat sosial seseorang, setidaknya kita bisa membuat kendaraan pribadi kita sedikit lebih umum. Layak dicoba: setiap anda datang ke tempat pertemuan, umumkan kapan dan ke arah mana anda berencana akan pergi setelah meeting ini, dan tawarkan kesempatan pada mereka yang mendengar untuk ikut dengan anda. Siapa tahu bisa carpool sampai ke tempat tertentu.

*

Jaman nabi-nabi memang telah lampau. Sayangnya kita tak sadar kalau kita tidak butuh lagi mukjizat untuk menuju tanah yang dijanjikan. Tindakan nyata dan konsisten dari setiap orang, itu saja yang dibutuhkan.