Day 8 #30harimenulis

Katanya sih kalau mencari kayu di pedalaman Bangladesh, anda harus memakai topeng yang dikenakan di belakang kepala. Dengan demikian, anda seperti memiliki dua wajah. Satu tetap menatap ke depan untuk memastikan anda berjalan di jalan yang benar. Satu lagi—muka topeng tadi—menghadap ke belakang. Menurut penduduk lokal, harimau suka menyerang dari belakang, dan dengan topeng di belakang kepala, harimau akan jadi ragu untuk menyerang.

Masa sih?

Apakah harimau yang lapar atau merasa terdesak akan menghentikan serangannya karena keburu ketahuan? Hayo, mau nyerang ya? Saya rasa harimau bukan hewan pemalu seperti itu. Tapi memang harimau jarang menyerang manusia tanpa provokasi. Biasanya malah akan menjauh sebisa mungkin kalau ada makhluk perusak hutan seperti kita mendekatinya. Mungkin kepercayaan tentang khasiat strategi topeng terbalik tadi tetap ada karena selama ini yang melakukannya belum pernah diserang harimau. Padahal, harimaunya memang tidak pernah mau menyerang. Pakai topeng maupun tidak, harimau memang tidak tertarik

*

Seperti selayaknya seorang ibu pada anak laki-laki pertamanya, Ibu selalu punya nasihat untuk saya. Nasihatnya itu-itu saja, namun sering diulang-ulang; mungkin karena saya sering lupa.

Flossing itu lebih penting dari sikat gigi.”

”Kamu tuh rahangnya rada kecil, tapi giginya besar-besar. Kalau cari jodoh nanti cari yang rahangnya sedikit besar tapi giginya kecil-kecil, biar anak kalian bagus pertumbuhan giginya.”

Dari TK nasihatnya itu-itu lagi. Selalu seputar gigi dan mulut. Mungkin karena beliau dokter gigi. Setiap kali ada kejadian lucu dan beliau ada di dekat saya, saya harus mengempiskan tawa saya menjadi sebuah senyum, karena saya merasa setiap kali beliau melihat gigi saya, beliau akan berkomentar, “Itu giginya kayaknya perlu dicabut.”

Sebagian besar nasihatnya tidak pernah saya turuti. Saya jarang flossing (Semoga Ibu tidak sedang membaca ini. Bisa-bisa saya diganyang!). Saya dapat istri dengan perbandingan rahang dan gigi yang biasa-biasa saja (Anakku masih belum tumbuh giginya. Seperti apa ya nantinya?). Dan, saya berhasil keluar dari rumah orang tua saya dengan sebagian besar gigi masih menempel di gusi.

Ada satu nasihat Ibu tentang mulut dan gigi yang melekat hingga hari ini: ”Mulutmu harimaumu.”

Katanya sih, dari dulu memang saya doyan berbicara. Tidak peduli ada yang mendengar ataupun mengerti, saya terus saja berbicara. Dari mulai a’ a’ u’ u’ sekalipun, saya sudah tidak bisa berhenti mengoceh. Akhirnya saya menganggapnya sebagai bakat (walau mungkin yang mendengarkan menganggapnya sebagai kutukan) dan sekarang pun saya bekerja di dunia cuap-cuap. Penyiar radio. Dosen. Sales. Trainer. Professional speaker. Konsultan. Semuanya bagian dari hidup saya yang menyenangkan ini.

Bagaimanapun, tetap saja terngiang nasihatnya: ”Mulutmu harimaumu.”

Sebenarnya apa arti nasihat itu?

Apa sekedar mengingatkan seorang anak kecil untuk tidak berisik?

Apa untuk mengingatkan kalau kata-kata kita bisa menyakiti orang lain?

Apa untuk mengingatkan kalau kata-kata yang terlontar dapat kembali lagi suatu hari dan menerkam kita dari belakang seperti harimau Bangladesh?

Atau mungkin untuk mengingatkan agar saya lebih hati-hati dalam mengumbar janji?

Bisa jadi Ibu bermaksud untuk menyampaikan semua nasihat tersebut sekaligus.

Sayangnya, walau ini nasihat yang telah dihayati, masih saja dengan tidak sengaja saya langgar berkali-kali. Telah banyak janji yang dengan kesungguhan hati saya ucapkan, tapi tak berhasil saya penuhi. Telah banyak kata-kata yang terlambat saya sadari kebodohannya. Banyak sekali kata-kata terlepas dari bibir ini yang telah menyakiti perasaan orang lain.

Apalagi soal kebisingan. Pasti banyak sekali kata-kata tanpa makna berguna yang telah kuucapkan yang hanya menambah polusi audio di dunia yang sudah berisik ini.

Mulutmu harimaumu.

Baru sekitar beberapa tahun terakhir baru kusadari ada makna satu lagi yang tersembunyi dalam dua kata tersebut.

*

Apa arti tersembunyi tersebut? Nantikan kelanjutannya