Ada rasa takut yang berdasarkan insting sejak lahir, ada yang berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan yang terbentuk oleh lingkungan setelah lahir. Response Fight or Flight yang timbul ketika kita didekati hewan buas, misalnya, itu berdasarkan insting.

Takut pada hantu sepertinya masuk ke dalam kategori kedua.

Saya sendiri belajar untuk takut pada hantu ketika saya masih balita. Sundel Bolong, Kuntilanak, dan Leak adalah tiga cerita hantu yang pertama saya dengar. Cerita-cerita hantu pertama yang saya dengar semua tentang wanita cantik yang merongrong masyarakat setelah bertemu ajalnya. Yang menceritakan cerita-cerita hantu itu juga biasanya para wanita dalam hidupku: tante-tante dan para pembantu yang menggunakan cerita hantu sebagai ancaman untuk mendorong saya agar menuruti kata-kata mereka.

Hingga kini saya sering berpikir, bila kisah rakyat dan legenda adalah hasil distilasi dari nilai-nilai mendasar yang dipercayai oleh sekelompok masyarakat, nilai-nilai seperti apa yang tercermin dari cerita-cerita hantu Indonesia dan Asia?

Kenapa makhluk halus Asia yang mengganggu masyarakat cenderung perempuan berambut panjang? Padahal, rambut panjang kan biasanya dianggap sebagai lambang kecantikan. Apakah cerita-cerita tentang Kuntilanak, Sundel Bolong, Suster Ngesot, dan Si Cantik Jembatan Ancol sebenarnya merupakan luapan hasrat lelaki yang terpendam? Mungkin dorongan di dalam diri kami untuk mengejar para bidadari duniawi sangat kuat dan sangat dahsyat hinggga akhirnya kami pun takut pada hasrat buas kami sendiri. Kami berusaha menekannya ke dalam alam bawah sadar, tapi kemudian rasa takut ini tetap muncul kepermukaan setelah bermanifestasi menjadi cerita hantu wanita berambut panjang.

Jadi hipotesis saya: cerita-cerita hantu di Asia kebanyakan diciptakan dan diceritakan sebagai salah satu peranti pendukung sistem patriarkal yang telah mapan. Fear the power of women, begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan.

Sayangnya teori ini salah.

Saya tahu teori ini salah ketika saya menyaksikan sendiri dongeng ini menjadi nyata.