Menteng

pic via Ovanbaskara

Menteng dianggap gaul bukan karena bergengsi.

Sebab Menteng jadi tempat anak gaul sebenarnya sama saja dengan sebab mengapa tempat lain bisa dianggap gau: alun-alun di depan museum Fatahilah, Tebet, dan lain-lain.

Anak Jakarta (seperti anak muda di kebanyakan kota besar di seluruh dunia) butuh Social Space mereka sendiri. Inilah sebab mengapa 7 Eleven bisa meninggalkan Circle K dalam persaingan.  Inilah sebab mengapa Jl. Progo di Bandung sekarang mulai naik daun.  Anak muda butuh tempat di mana mereka bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa diganggu oleh orang luar.

Tentu saja definisi “orang luar” ini bisa jadi berarti orang tua, merek-merek, dan (bagi orang Bandung) orang-orang plat B.

Dan ini tidak mudah.  Penjajahan ruang terus terjadi secara langsung (orang Jakarta akan menemukan Jl. Progo dan merubahnya menjadi seperti Dago) dan tidak langsung (anak Bandung dulu lebih senang nongkrong di rumah-rumah, tapi karena harga properti terus naik, banyak rumah-rumah yang dijual, dan tempat nongkrong anak Bandung mulai bergeser ke pertokoan).

Demand untuk Social Space ini kadang menemukan supply yang cukup.  Saat ini terjadi, tempat gaul tidak akan tercipta.  Namun, terkadang persediaan di suatu area sangat terbatas.  Di saat seperti inilah demand akan mengalahkan supply, dan anak-anak muda akan menciptakan tempat gaulnya sendiri.  Di saat inilah tempat-tempat gaul terlahir.